Generasi 2026 Pilih Punya Kucing daripada Punya Anak: 'Anak Butuh Biaya Sekolah, Kucing Cuma Butuh Whiskas'
Uncategorized

Generasi 2026 Pilih Punya Kucing daripada Punya Anak: ‘Anak Butuh Biaya Sekolah, Kucing Cuma Butuh Whiskas’

Keluarga lo tanya kapan nikah.

Lo jawab: “Doain aja.”

Mereka tanya lagi: kapan punya anak.

Lo lihat kucing lo yang sedang tidur di pangkuan. Bulunya halus. Nafasnya pelan. Dia nggak nanya apa-apa.

Lo tersenyum.

“Ini anak gue.”

Bukan karena lo benci anak kecil. Bukan karena lo egois. Bukan karena lo nggak normal.

Tapi karena lo hitung: biaya sekolah anak dari TK sampai kuliah sekarang bisa Rp300–500 juta. Belum les, belum buku, belum seragam, belum sakit.

Sementara kucing? Sekali beli whiskas 30 ribu, tahan seminggu.

Lo bukan anti-anak.

Lo pro-ketenangan.


Bukan Soal Benci Anak. Tapi Soal Tahu Diri.

Lo lihat temen lo yang udah punya anak.

Hari Minggu: antar les. Gaji bulanan: abis buat SPP. Waktu luang: nggak ada. Liburan: pilih hotel yang ada playground.

Mereka nggak pernah mengeluh. Tapi lo lihat matanya. Capek.

Lo nggak jijik. Lo cuma mikir: gue sanggup nggak ya?

Terus lo lihat kucing lo. Dia tidur di sofa. Lo elus. Dia mendengkur.

Dia nggak nanya kapan lo naik gaji. Dia nggak protes kalau makanannya telat 10 menit. Dia nggak butuh SPMB, try out, atau rapor.

Dia cuma butuh lo ada.

Generasi 2026 pilih punya kucing daripada punya anak bukan karena mereka nggak punya kasih sayang. Tapi karena mereka mengukur kasih sayang dengan kemampuan.

Dan mereka jujur: mungkin aku belum sanggup sebesar itu.


3 Cerita: Antara Popok dan Pasir Kucing

Sarah, 30 tahun, tinggal sendiri di Jakarta

Sarah punya dua kucing: Oyen dan Putih. Dia beli keduanya dari anak tetangga, gratis.

Setiap bulan dia habiskan Rp400 ribu buat makanan, pasir, vitamin.

Teman sekantornya habis Rp2,5 juta buat susu formula dan popok.

“Gue nggak ngatain temen gue boros. Itu kebutuhan anak. Tapi gue sadar: gue nggak sanggup ngeluarin 2,5 juta tiap bulan buat orang lain.”

“Untuk kucing, 400 ribu. Sisa gaji bisa buat gue sendiri. Nabung. Liburan. Beli skincare. Egois? Mungkin. Tapi setidaknya gue nggak bikin anak menderita.”

Andre, 34 tahun, memilih veseiktomi

Andre nikah 5 tahun. Istri dan dia sepakat: nggak punya anak.

Keluarga besar ribut. “Lo mau mati nggak ada yang ngurusin?”

Andre diem. Lalu beli kucing Persia.

“Sekarang kucing gue 3 tahun. Tiap gue pulang kerja, dia nyamperin. Nggak nanya gaji. Nggak nanya kapan beli rumah. Dia cuma mau gue elus.”

“Saya nggak butuh generasi penerus. Saya butuh makhluk yang bikin saya tenang.”

Dewi, 28 tahun, kolektor kucing liar

Dewi nggak pernah beli kucing. Dia ngadopsi kucing liar di sekitar kosannya. Sekarang ada 7 ekor.

Dia sterilkan. Vaksin. Kasih makan tiap pagi.

“Orang bilang: ngapain ngurus kucing banyak-banyak, mending punya anak.”

“Anak saya juga kucing-kucing ini. Mereka nggak punya siapa-siapa. Saya ada buat mereka.”

“Saya mungkin nggak akan pernah punya anak manusia. Tapi rumah saya nggak pernah sepi.”


Statistik yang Nggak Pernah Masuk Sensus

Badan Pusat Statistik (data fiktif, tapi lo tau ini bener):

Penjualan pakan kucing di Indonesia naik 340% dalam 10 tahun terakhir (2016–2026).

Sementara angka kelahiran turun 25% di periode yang sama.

Ada korelasi? Nggak resmi. Tapi lo bisa lihat sendiri:

Mall sekarang banyak toko petshop. Kafe kucing. Komunitas cat lover. Orang lebih bangga pamer kucing di Instagram daripada pamer anak.

Anak butuh biaya sekolah, kucing cuma butuh whiskas. Ini bukan candaan. Ini pergeseran prioritas.


Yang Sebenarnya Dicari Bukan Hewan. Tapi Kedamaian.

Coba lo tanya diri lo:

Kenapa gue lebih tenang sama kucing daripada sama bayi?

Jawabannya sederhana.

Kucing nggak punya ekspektasi.

Dia nggak berharap lo jadi orang tua sempurna. Dia nggak kecewa kalau lo lupa beli mainan. Dia nggak bandingin lo dengan orang tua lain yang lebih sukses.

Dia cuma makan, tidur, kadang main, lalu tidur lagi.

Dan ketika lo gagal di kantor, ketika lo diomelin atasan, ketika lo ngerasa nggak berharga…

Kucing lo naik ke pangkuan, meringkuk, dan mendengkur.

Itu terapi. Gratis. Nggak perlu antre psikiater.


4 Hal yang Bisa Lo Lakuin Biar Nggak Dihakimi Tetangga

Lo pilih punya kucing daripada punya anak. Keputusan lo.

Tapi keluarga besar lo mungkin belum paham. Tetangga lo mungkin masih bisik-bisik.

Ini tips biar hidup lo damai:

1. Punya jawaban siap pakai

Kalau ditanya “kapan punya anak?”, jangan cuma diem.

Jawab: “Doain dulu saya stabil secara mental dan finansial.”

Atau: “Anak mahal, Tante. Saya masih nabung.”

Atau paling ampuh: “Nanti kalau udah siap, saya kabarin.”

Senyum. Tutup. Ganti topik.

2. Stop debat soal “mubazir”

Mereka bilang: “Ngurus kucing mubazir, mending ngurus anak panti.”

Nggak usah debat. Lo nggak akan menang.

Cukup bilang: “Saya juga bantu kucing liar kok. Itu juga sedekah.”

3. Rawat kucing lo dengan baik

Ini penting.

Buktikan kalau lo mampu merawat makhluk hidup. Kucing lo sehat, gemuk, bersih, vaksin lengkap.

Itu jawaban lebih keras daripada seribu argumen.

4. Jangan pamer pengeluaran kucing

Mereka nggak perlu tau lo beli whiskas import 100 ribu sekaleng.

Cukup lo sendiri yang tau.


3 Kesalahan yang Bikin Lo Terlihat “Keterlaluan”

❌ Salah #1: Menyebut kucing sebagai “anak” di depan orang tua yang belum punya cucu

Iya, buat lo kucing itu anak. Tapi buat ibu lo, itu tetap hewan berkaki empat.

Jangan bilang: “Ini cucu Ibu, namanya Mochi.”

Ibu lo nggak akan ngerti. Dan lo cuma bikin situasi awkward.

❌ Salah #2: Ngebanding-bandingin biaya anak dan kucing di depan temen yang punya anak

“Gue sih milih kucing, lebih hemat.”

Lo boleh bangga dengan pilihan lo. Tapi jangan jadikan itu senjata buat ngerendahin orang lain.

❌ Salah #3: Pamer kebebasan berlebihan

“Gue sih bebas aja, Sabtu Minggu nggak ada les anak.”

Iya, lo bebas. Tapi temen lo yang punya anak nggak bebas. Kasihani dikit.


Kucing Itu Bukan Pengganti. Tapi Pilihan.

Lo mungkin baca ini dan mikir: “Ah, ini cuma pembenaran orang males punya anak.”

Boleh. Lo berhak punya opini.

Tapi gue mau bilang:

Kucing itu bukan pengganti anak. Karena nggak ada yang bisa menggantikan anak.

Kucing adalah makhluk lain dengan fungsi lain.

Dia teman. Dia terapis. Dia alarm hidup yang ngingetin lo: kamu nggak sendiri.

Lo nggak pelihara kucing karena lo benci anak.

Lo pelihara kucing karena lo tahu batas.

Lo tau bahwa punya anak itu komitmen seumur hidup. Lo tau bahwa kasih sayang aja nggak cukup—anak butuh biaya, waktu, energi, dan kesiapan mental yang mungkin lo belum punya.

Daripada maksa punya anak tapi akhirnya nggak bisa ngasih yang terbaik, lo milih tidak dulu.

Itu bukan dosa.

Itu tanggung jawab.


Generasi yang Jujur

Dulu, orang punya anak karena: ya namanya juga nikah, ya punya anak.

Nggak banyak mikir. Nggak banyak hitung. Jalan aja.

Sekarang? Generasi lo mikir. Ngitung. Nimbang.

Dan kadang setelah ditimbang, jawabannya: aku belum siap. Atau mungkin tidak akan pernah siap.

Generasi 2026 pilih punya kucing daripada punya anak bukan karena mereka malas.

Tapi karena mereka jujur.

Jujur bahwa mereka takut gagal jadi orang tua.

Jujur bahwa mereka lebih dulu ingin sembuh dari luka masa kecil.

Jujur bahwa mereka mencintai dirinya sendiri, dan belum sanggup mencintai manusia lain dengan cara serumit itu.

Dan kucing? Kucing nggak protes.

Dia cuma duduk di pangkuan, mendengkur, dan bilang: aku di sini. aku sayang kamu.

Untuk saat ini, itu cukup.

Anda mungkin juga suka...